Kamis, 27 Agustus 2009

Latu

Kembali keangkuhan memeluk ku
kesombongan merantai
tangan kaki berlumur
darah
merah
tersayat
teriris
Kepala pecah
tergilas
terinjak roda
Hancur
Lebur
Mati
Tak ada lagi arti
Sia sia
harta di tumpuk berhari hari
akhirnya mati tiada
di hargai lagi

sudahlah cukup sampai di sini
sebelum tangan ku membelah bumi

dan biar lah aku pergi kemakam ku sendiri
kerandaku sendiri

keranda hati
makam jiwa yang terluka

Latu

Kembali keangkuhan memeluk ku
kesombongan merantai
tangan kaki berlumur
darah
merah
tersayat
teriris
Kepala pecah
tergilas
terinjak roda
Hancur
Lebur
Mati
Tak ada lagi arti
Sia sia harta di tumpuk berhari hari akhirnya mati tiada di hargai lagi

Sabtu, 22 Agustus 2009

Foto Lcp(toni dan lutfi)

---------- Forwarded message ----------
From: toni saputra <tonisastra@gmail.com>
Date: Mon, 17 Aug 2009 21:26:10 +0700
Subject: f
To: tonisaptasaputra@gmail.com

PUISI ANAK KOMPAS

Ya, telah ku akui
jarak dan bahasa memisahkan kita

Tapi rinduku
bagai hembusan angin

Yang mendesah dan
mendesah dalam impian

Mengalir dan
mendesir

Mencari keteduhan
hati

Malam
alangkah kelam

Maut
yang bengis dibalut kain hitam

Masih
ku ingin di tepi pantai kuta

Hangat
desah nafsmu yang lembut

Seakan
mengguncang perasaanku

Tanpa
jarak dan bahasa

Kan ku jadikan cinta
seperti lilin

Yang
rela hancur menerangimu

Bagai
bumi dilingkaran sang bulan


By.
Sulistiana


PBSI
IIA

KESUNYIAN HATI

Di sudut jendela
kamar yang sunyi

Ku duduk
termenung seorang diri

Berfikir-berfikir
dan terus berfikir

Hidup…hidup…

Apakah yang
kucari dalam hidup ini

Cinta
yang fitrah dari Alloh

Wahai
saudaraku,

Bukan
wajah tampan yang menawan

Bukan
wajah cantik yang mempesona

Bukan
bertumpuk kekayaan dunia

Bukan
tutur kata dan rayuan

Tetapi….

Akhlak mulia
dalam keserasian

Tanggung jawab
dunia dan akhirat

Ibadah sunat dan
wajib yang sudah menjadi bagian

Senyum surga yang
sangat menawan

Dan juga
kenikmatan akhirat bias menjadi

Harapan….


By
: SULISTIANA


PBSI
IIA

SAAT LAMPION ITU MEREDUP

Karya : M3 BEB RTA

Luluh menghancurkan,

Menebarkan,

Menggantungkan janjinya,

Menembus maya,

Melati putih salam genggaman,

Menabur kesedihan,

Dan tanah bersamanya,

Menjadi istananya,

Hidup dalam kerapuhan,

Sedih tak terhapuskan

Dan hati ini menolaknya,

Karena dia masih milikku jua

NYANYIAN SAYANG

Karya : M3 BEB RTA

Aku …

Memelukmu,

Tapi melukaimu,

Dan bukan aku

Sebenarnya
say ang,

Tak
mau menyayang,

Dan
terang,

Bukan
menjadi penerang

Masih menunggu,

Janji putih dalam
ingkarmu,

Dan aku,

Menghancurkanmu,
karena kamu….

MALAM SERIBU

Karya : M3 BEB RTA

Jika bangsaku,

Menjadi milikku,

Oh… tapi bukan

Karena bangsaku
mengenaskan,

Karena
bangsaku jadi miliknya

Bukan
milik kita

Dan
menjadi hantu seterusnya

Berontak tapi
luluh,

Tak tersatukan

Membagi dalam
banyak permainan

Drama,
pensi ataukah wayang,

Diolak-alik,
gonjang-ganjing

Menjadi
kematian dalam liang,

Karena
kalian hancurkan jiwa yang terang

MALAM SERIBU BUTA

Karya : M3 BEB RTA

Bangsaku tidak mati,

Melainkan ada tangan belati,

Ular-ular pemberontak,

Bagai tengkorak

Membunuh jiwa dan hati,

Membisukan mulut ini,

Membawa riak,

Menjadi boomerang sekarang dan kelak.

Berada disurga bagai mimpi,

Tempat tak dimiliki,

Karena kalian yang haus kekuasaan.

Dan buta, tuli jadi milik kalian

DULU SEKARANG DAN NANTI


Karya
: M3 BEB RTA

Jika dulu mereka
menderita

Maka semua bahagia

Karena
pengorbanannya

Adalah
perjuangannya

Hanya kita
sekarang bagai boneka

Karena
payung kita hanya sementara

Bukan
untuk selamanya

Mka tulus
bukan hatinya

Dan ini kiamat
isi bansa

Bukan kematian
bangsa

Dan hati bangsa
adalah jiwa kita

Bukan hati kita
yang jiwa mereka

Sampai
nanti dunia

Berontak
menyamai kita

Menghancurkan
kehidupan yang bagai boneka

Dan mereka
diatas tertawa….

GUNUNG YANG BINASA


Karya
: M3 BEB RTA

Dia menangis
dibalik kemewahan,

Terkujur luluh
dalam kelelahan,

Dan tertawa
diatas drama permainan,

Mengusung
kesedihan menjadi makanan.

Jika
hidup jadi raja,

Dan
jika mati bukan gugur tapi binasa,

Hilang
tanpa kenangan bahagia,

Melainkan
kecaman tiap insane jiwa.

Tanpa isi yang
menjanjikan,

Tanpa janji yang
dilakukan,

Dan gunung bagai
kalian

Yang tinggi tanpa
harga diri, merebut kemenangan.

KEINDAHAN MU


Karya
: M3 BEB RTA

Masa yang indah
dalam alunan musik bangsa,

Yang telah kau
sentuh dengan jari jemari lentikmu

Dan itulah sebuah
nyanyian selamat datang

Semua dapat
mendengar bisikmu

Dapat merasakan
kelembutanmu

Engkaulah
desahan lautan yang menetramkan

Pembawa
hasrat juang

Senyum
daratan yang menyejukkan

Bagi
jiwamu yang membentang luas

Air
mata surga bagai kesucian pembawa terang

Dan
setetes air bumi dari langit pikiranmu

Yang
tak berkesudahan

Kita terpesona
atas dirimu

Kartini….

Dengan keabadian yang
kukuh

Kau membukakan
mata kami dan memberi harapan…

Sampai seribu
langkah kaki kita di atas bumi yang

Menciptakan
kebahagiaan

BANGKIT DARI
KESEPIAN

Heningnya malam

Menusuk hatiku

Hembusan angina
sepoi

Menemani malamku

Ingin
kucari sang rembulam

Tuk
ceriakan hati ini

Hatiku
yang dilanda sepi

Tanpa
ada yang menemani

Ketika sang surya
terlelap

Mata hatiku
pejamkan kelopaknya

Tetap ku cari
sang rembulan

Tuk temani di
alam mimpi

Malam
menjelma menjadi pagi

Sang
surya memanjat kaki langit

Tampak
cahaya emas merahnya

Menyentuh
lembut kulit ini

Matapun mulai
terbuka

Tuk melihat
cakrawala

Sorot mata dan
suara hati

Mengetuk pintu
bumi

Tuk bangkit dari
kesepian ini.


Trenggalek,
19 Mei 2009


By
Beng

GADIS BERJILBAB BIRU

Wajahmu ayu
laksmana Bidadari turun dari kayangan

Wajahmu anggun
dalam balutan jilbab biru

Tuturmu santun

Tingkahmu sopan

Akhlakmu mulia seumpama
Dewi Fatima Azzahra

Wahai gadis
berjilbab biru

Perkenankanlah
daku mengenalmu

Izinkanlah
fikirku mengingat wajahmu

Relakanlah namamu
kuukir di dalam sanubariku

Meskipun aku
hanyalah seorang yang hina

Meskipun fikirku
kotor

Meskipun hatiku
penuh dengan dosa

Namun niatku
tulus nan suci

Niatku hanyalah
ingin mengagumimu

Makhluk ciptaan
Tuhan

Yakni dirimu,
wahai gadis berjilbab biru

TEKA TEKI CINTA

Apakah itu cinta?

Banyak orang
mencari cinta

Banyak orang
berkorban demi cinta

Benarkah
cinta itu indah?

Kenapa
hidup menjadi buruk karena cinta?

Benarkah
cinta itu suci?

Kenapa
hidup menjadi kotor karena cinta?

Benarkah
cinta itu bahagia?

Kenapa
hidup menjadi susah karena cinta?

Benarkah
cinta itu damai?

Kenapa
terjadi perang atas nama cinta?

Cinta….!!!

Sebuah kata yang
menyimpan arti

Menjadi teka-teki

Bagi hidup ini


Trenggalek,
12 Mei 2009

RESAH TANPAMU

Saat waktu
terlewati tanpa besamamu

Waktu seakan tak
mau berlalu

Jarum jam seakan
enggan melangkah manu

Antara pagi dan
siang pun ….

Terasa lama jika kulalui
tak bersamamu

Setiap langkah
detik waktu

Bergumam hatiku
dalam rindu

"Cepatlah berlalu
wahai hari-hari liburku…"

Bayanganmu selalu
menemani angan dan gerakku

Seakan tidurpun
tak bisa menghapus warna indahmu

Dalam tak
sadarpun bayangmu selalu setia

Memberi warna
indah untuk mimpi-mimpiku

Begitu beratnya….

Melewati hari,
menjunjung waktu

Tanpa bersamamu


By
: A –

D E N D A M

Rasa dendam yang
terpendam

Takkan pernah
hilang sampai akhir zaman

Rasa
sakit karena kau hianati

Takkan
pernah dapat terobati

Walaupun
engkau terhimpit bumi

Karena
hatiku telah mati

Untuk
melupakan sakit hati

Luka di dalam
hati

Akan terbawa
sampai mati

Kamu….kamu…!
Berhati-hatilah kamu

Karena
diri ini akan membalas sakit hati

Supaya
engkau mengerti

Betapa
pedihnya sakit hati


Dwi
Alista

RUMAHKU

Inilah tempatku

Tak pernah
tersapu

Tak ada sesuatu

Termasuk sebuah
pintu

Beratap
jerami

Beralaskan
tanah putih

Memang
ini yang ku miliki

Dan
Cuma ini …..

Tanpa ada hiasan

Aku masih tetap
bertahan

Demi kebahagiaan

Dimasa yang akan
datang


Dwi
Alista

CINTA TAK MESKI BERSAMA

Mengapa cinta tak meski
bersama

Kisahkupun berakhir luka

Haruskah cinta membuat
luka

Akankah cinta terkubur
slamanya

Berakhirlah sudah
tak mungkin kita bersama

Ku kubur semua
cerita

Ku lepas semua
untuk slamanya

Haruskah ku menunggu

Dalam sepiku

Walau kau tak tau

Berakhirlah sudah


Dwi
Alista

KETIKA MALAM KABUT KERINDUAN MENJELMA

Dinginnya malam
seakan mencekam

Kabut-kabut
kerinduan seakan menjelma

Bersama dinginnya
air hujan

Yang terus
menerus mengalir deras

Disertai angin
kencang

Tubuhku
sedingin es

Sekaku
jeruji besi

Akankah
kehangatan datang

Menghampiri
….

Bersama
ketulusan di hati

SEBERKAS SINAR

Di kala pagi yang
cerah tiba

Bayangmu ada
dipelupuk mataku

Ku ingin wajahmu
secerah sinar matahari

Yang selalu
menyinari kehidupanku

Di
kala hati gelisah

Di
kala hati gundah

Agar
aku dapat selalu berpijak

Berpijak
di bumi yang penuh arti


By
: Sulis


2A

?

Kami berdiri
bersama matahari

Ketika sang kala
menyapa

Kami tertidur
bersama rembulan

Kami terlelap
oleh sang bintang

Ketika nyanyian
malam

Menggetarkan
karena ke peribaan

Kami
ada di setiap kota

Kami
ada ketika keramaian

Membahana……

Kami
ada walaupun tersisih

Oleh
zaman

Oleh
cinta

Oleh
kemunafikan

Kami terhanyut
oleh keadaan

Kami bagai macan
dan bertemu api

Menari-nari dalam
dingin jeruji

Lihatlah
ibu ….

Betapa
agung perjuanganmu

Kini
aku bisa ikut berbangga

Melihat
hasil perjuanganmu

Sekarang
para Kartini muda

Buktikan
bahwa engkaupun bisa

Janganlah cuma
sekedar menerima

Semua aturn yang
dibuat dunia…

Tapi…

Tunjukkanlah pada
mereka

Bahwa wanitapun
bisa

Berkarya…

Bukan hanya
sekedar boneka

Yang bernyawa!

"NEGRI SEJAHTERA"

Bebas tikus
meraja-lela

Kapankah tiba
masanya

Menunggumu
menjadi pemimpin bangsa

Menggantikan
tikus-tikus itu

Apa kita
tak punya racun tikus…?

Racunilah
tikus-tikus itu

Sebelum
tikus itu mercuni kita

Hingga
kita menderita penyakit tikus

Atau kita
menjadi tikus pengganti tikus itu

Apa kita sayang
pada tikus tikus itu…?

Hingga terus kita
beri makan dan kandang

Atau kita
bercita-cita menjadi tikus

Aku tidak

Aku alergi
tikus

Bagaimana
denganmu?

Semoga
tidak…

Karena
masa depan bangsa ada di genggaman tanganmu

Yang tak
seharusnya

Kau
iklaskan selamanyajadi sarang tikus

Yang
menggrogoti punggung ibumu

Mengerat
roti anak anakmu

Basmi tikus-tikus
itu

Tapi jangan jadi
kucing pemangsa dirimu sendiri

Ngerti po
ra karepku…?

Lek ra
ngerti takono bapakmu

Yang telah
melahirkan tikus-tikus itu


By


TOSA

"JANJIKU"

Tak kan ku berhenti,gapai
mimpi walau takpasti

Sampai jadi
bangkai selaksa jalan ku lalui

Gunung badai tak
menghalangi

Dan…

Kau akan tau
siapa aku

Sekeras apa
hatiku

Kau antar didikanku

Kau tancap dan tanam di
hatiku

Teguh hati,prinsib akan
janjiku

Kau yang munculkan
tekat,tumbuhkan semangat,lahirkan bakat

Dan…

Kau semangat
dengan berita hangat

Tapi kaukah yang
sendat…?

Keparat kah penjilat
seperti

Bak ulat menggeliat di
kuburan rakyat dari gubuk melarat

Kau sikat dengan
bersilat

Apa hatimu
berkarat

Kau pupuskan
tekat,patahkan semangat,bunuh bakat

Tapi aku nekat sampai
dijemput malaikat

Lihat apa yang tak
pernah kau lihat,Jika anganku tak mencuat

Ini kutulis
dadengan hatiku

Kata jiwa bahasa
hatiku

Penukar hatimu
dengan hatiku

Sebagai
mahar,membeli hatimu seharga hatiku

Dan…

Dulu kukatakan pada mu

Dengan bahasa
akan ku rubah dunia dengan warna baru

Dan kuraih dunia
dalam genggamanku

Sebagai
persembahan bagi Ibu

Dan….

Ini satu bukti
janjiku

SASTRAKU

Hari telah
berganti

Mentari kini
telah terbit kembali

Jiwa yang telah
lama hilang

Kini telah
bangkit

Sastra telah berdiri

Dari sebuah pemikiran
hati

Tak ada gurauan di dalam
tekad kami

Tak ada kepura-puraan di
dalam niat tulus kami

Untuk sastra kami
berdiri

Dan kami ada
untuk harapan yang pasti

Kali ini…..

Kami teriakkan
sebuah jeritan semangat jiwa sastra,

Seniman hati,
penggores tinta, pencetus mahakarya

Sastraku……

Kami telah bangkit
bersamamu

Dan bersama sastra

Akan kami buka kembali
harapan karya anak bangsa.

By : Pradana
Kedra P.


01
Juni 2009

AKU

Ingin kutegakkan
kebenaran

Tapi aku merasa
bukan yang paling benar

Ingin kutegakkan
keadilan

Tapi aku belum
dapat berlaku adil pada diriku sendiri

Ingin kuciptakan
kedamaian

Namun hatiku
sendiri belumlah damai

Ingin ku berikan
harapan

Namun aku tak
bisa diharapkan

Dan…,tak ada yang
berharap pada ku

Apa yang ku
inginkan……?

Apa yang dapat ku
raih…?

Apa yang ku
lakukan…….?

Sedang aku
sebatas bungkus RELAXA

Taklebih berarti
dari sebatang korek api

Penyulut lilin di
sudut kegelapan hati

Tak lebih
bernilai dari sehelai bulu merpati

Terbawa angin
terbang ke langit tinggi

Namun…

Meski aku
seonggok serpihan hampa

Ku ingin
mendobrak sebongkah batu baja

Aku ingin jadi

Dan…..

Bisa berikan yang
terbaik meski untuk diriku sendiri

Y WON TO number
ONE

And Y won to
going THE BEST

……………………………..CAN
YOU help my


By TOSA

HARAPANKU

Harapan baru

Di sana ku sandarkan langkahku

Dalam sadar
lelahku

Penat akan
kekeluan hidup

Mengharap seutas
asa

Merangkai makna
tersisa

Harapanku
setinggi semeru

Kumerangkak dalam
gelap

Meniti tangga
romantika

Menatap harapan
baru yang terus menyeretku

Untuk berlari
(diantara gelimang keringat dan oli)

Harapan baru
melambaikan tangan memanggilku

Mengajakku
bersama

Menelusuri
jalanan panjang berliku

Dengan kata
tersisa…….!

Harapan baru masih ada

Meski tak
menawarkan harapan padaku

Dan ……

Aku masih
bertumpu pada harapan baru

Yang menemaniku
dengan setia

Untuk memandang
langit biru

Dimana disana
kugantungkan harapanku

Hingga ku capai
harapanku

Dan aku
meninggalkanmu harapan baru

Dengan kata
terucap

Selamat tinggal harapan baru

Terima kasih……..

Kau telah
mengantarkanku (menuju harapanku)

Selamat jalan
harapan baru

Maaf……

Tak selamanya ku
bisa menyertaimu

Namun…….

Mungkinkah itu…?

Kapankah itu….?

Entahlah harapan
baruku

Terlalu kufurkah
aku (dengan selangit harapanku)

Mengharap setetes
embun di senja hari

Mengharap putaran
roda berhenti

Dan kau turunkan
aku di istana harapanku

Sebelum keretanya
memanggilku

Untuk harapan
terakhirku

Oh…..

Harapanku….

Harapan baruku……

Harapan
terakhirku…..

Sejuta kenangan
bersamamu

Segudang mimpi
denganmu

Dan kini kau
masih tersenyum

Dengan
keperkasaanmu

Dengan nama
besarmu

Kau terus melaju

Di antara jalan
licin berliku

Dan…..

Ku nanti
kedatanganmu esok

Untuk kembali
menyambut mimpi baru

Antarkan ku

Menuju harapanku


By TOSA

AYAM DAN KAMBING

Gelap

Pekat

Seikat bayam barter ini

Takkah kau
Tanya…?

Kokok ayam

Pinta kembali
tanduk kambing

Ini
tandukku…..(mana tandukmu)

Balita tertanduk
terpuruk remuk

Pucuk tanduk
bermandi madu (air mata anakku,keringat bapakku,darah lumpurku)

Anak ayam
takberinduk (meringkut di sudut gubuk)

Burung kehilangan
sarang kemana…….(hendak pulang)

Gajah tak
bergading

Bambu taklagi runcing

Kucing tak bertaring

Perang tanpa pedang

Kau beli berapa
aku

Kau mau jual
berapa

Aku tak jual ini
(untuk beli gadingmu yang siap menanduk
ku)

Aku mau kau
kembalikan tanduk ayamku

Namun ……

Kambing tetap
angkuh diatas singgasana

Sang kambing
berkata "ditanganku tandukmu kan
berguna"

Untuk menanduk
ku? (Jawab sang ayam)

Untuk
melindungimu, kata kambing (seperti tahun lalu)

Mana tanduk ku?

Kembalikan tandukku

Kau tak pernah tepati janjimu (teriak
ayam)

Bukankan aku
telah memberimu makan (jawab kambing)

"ya"

Dengan kau
dudukkan aku di kursi roda yang tiap saat kau doromh kemana kau suka

Aku tak lumpuh
(kenapa kau buat rapuh?)

Aku tak butuh
jagung darimu

Jagungmu beracun

Ku msih bisa
mencari jagung yang tak berbisa

Kembalikan saja
tandukku


Tosa

DI CELAH GERBONG KERETA

Ku tatap lekat

Lembar demi
lembar ku baca

Dan …………………….

Kucari makna
(atas kiasnya)

Indah nian

Simpan selaksa
rahasia

Tertutup gerbong
sangkakala

Dewa pun tak
mampu menyibaknya

Aku hanya mampu
mengikuti rel kereta tanpa ku tahu kereta hendak kemana

Aku tak
berdaya………

Aku bukanlah apa
apa …..

Hanya pelengkap

Pengisi ruang
yang tak lagi kosong

Dan aku berdiri

Di antara celah
gerbong

Ku tatap nun jauh
disana

Kau sudah tak ada

Di telan laju
kereta

Masihkah kau ada

Masihkah tersisa

Serpihan dirimu
diujung kukuku

JANGKAR KEHIDUPAN

Saat matahari
meredupkan sinarnya

Saat malam mulai
menghampiri

Aku goreskan pena
pada kertas putihku

Untuk menuliskan
jangkar kehidupanku

Kejadian di waktu itu

Saat engkau
menghampiriku

Saat kau meneteskan air
mata

Sakit…..terasa meggelegar
di dalam naungan jiwaku

Kau ucapkan kata
mutiara dari mulutmu

Mutiara kelam
dari perjalanan cintamu

Alunan jiwamu

Gelombang
kehidupanmu

Membaur dalam setiap
detak jantungku

Menyatu dalam
setiaphembusan nafasku

Gambaran wajahmu

Merasuk ke dalam pelupuk
mataku

Namun….. semuanya
menjadi berbeda

Segumpal rasa
mengganjal di dada

Rasa yang selama
ini tak pernah ada

Rasa yang tak
pernah ku bayangkan sebelumnya

Dari sini, aku telah
merasakan semuanya

Haruskah aku berhenti?

Dan membangun pelabuhan
hidupku

Serta menurunkan jangkar
kehidupanku

SINAR PUTIH

Saat aku terdiam

Menatap dari
sebuah mata air kehidupan

Terpancar cahaya
keabadiaan

Cahaya yang
terpancar dari kesucian hati

Dibawah naungan sang
pencipta

Aku bersujud

Aku mencoba merendahkan
jiwaku

Untuk meraih ridonya

Lambaian tangan
sang surya

Merasuk ke dalam
ragaku

Menyatu ke dalam
tubuhku

Memancar dari
setiap keikhlasan hatiku

Ya tuhanku

Ijinkan aku memiliki
semua itu

Sebuah aura kesucian
batinku

Seberkas pancaram sinar
putihku

TRAGEDI TIRTA WANGI

Dalam sederet
mimpi

Meretakkan
tulang-tulang

Laju kereta
menggeretku

Hingga
menggelengpun ku tiada

Separo musim
tanpa mentari

Ku terbuai sunyi

Dalam lelap

Ku tatap pasak-pasak
langit

Merayapi dinding
kehidupan

Ku telusuri tapak-tapak
mimpi

Dan ku bersandar di
ujung tragedi

Tirta wangi
mengisakan sebait luka

Merantai
rusuk-rusuk waktu yang patah

Tirta wangi ……

Kembali pergi
bersama mentari

Dengan sejuta
mimpi yang terkebiri

Atas kenangan
yang tersangkar di kesunyian

Pudar…….

Tergilas mata
remaja

Tirta wangi …….

Masih ku ingat harummu

Kala ku kecup
lekuk nadimu yang kutiti

Tiap batas waktu

Malam ku pudar di
telan sunyimu

Bulan telah berpamitan

Namun kemenanganmu abadi


Tersangkar dalam
tetes-tetes kasih

Tirta wangi……

Embun rinduku tak mampu
melukis

Senyum indahmu

Panoramamu tertelan
lorong waktu

Tirta wangi……

Kuingin kembali

Mengukir sepoi sejuk di
kakimu

Menggapai mentari (perwujudan mimpi)

Menghapus
sisa-sisa tragedi

Tirta ….. wangi…..


By


TOSA

MASIH TENTANG TIRTA WANGI

Tirta wangi …….

Dimana engkau kini

Kemana engkau pergi

Kemana hendak
kucari

Tirta wangi ……

Tempat terindah aku menanti

Tirta wangi …..

Kau simpan selaksa makna di hati

Meski sehasta pun kau tak
penah…

Peduli

Tirta wangi …..

Ku harap engkau kembali

Untuk katakana tentang
keindahan

Keindahan tirta wangi yang tak
pernah…

Aku tak mengerti.

Tirta wangi …..

Kian ku kejar ….. kian kau
berlari

Kian kau cari ….. kian engkau
pergi

Kian ku Tanya …. Kian ku
mengerti

Misteri di balik senyummu

Filosofi keindahanmu

Tirta Wangi ,
Walau kau tak ku dapati …..

Meski ku takkan
ku miliki

Namun kau
berharap senyummu kan
kembali

Menyinari
hatiku,memberi warna hidupku

Temani hari
indahku

Sampai kau di
peluk bumi

Hasrat nadi

Ku telanjangi malam

Mengais ruas nadi
yang terlupakan

Pesolek langit berebut bercucuran

Sendu purnama (melelehkan air mata)

Menyingkirkan tabir nista

Akan sebait lagu yang sia-sia

Tentang …….

Mata air hati kering

Hati yang tak terpelana

Namun berselempang sutera

Dari magma hati

Yang terbungkus ruas zaman

Entah sampai kapan

Mungkin sampai akhir denyut nadi….!

Pena zaman kan terus berjalan

Menelusuri tiap lorong-lorong kelam

Untuk ruas yang terlupakan

Demi……

Segenggam angan-angan

SELARAS MALAM

BUKAN SIANG
PENERANG TERANG YANG MEMBAHAGIAKAN

TAPI MALAM YANG
GELAP YANG MENENTRAMKAN

MENGELUS
PUNDAK-PUNDAK KEINDAHAN

MERAJUT ASA DAN
BAHAGIA TERPATAHKAN

MEMEJA PENUH DERA
MENETES DERAS

DI MUKA
PANGKUANKU BUKAN BERLIAN SELARAS,

SEMAKIN TERPURUK
DALAM KEKUASAN ASA

TAKUT TAPI TAKLUK
DALAM DERITA.

DAN AKU OLEH
MALAM,

KARENA DIA AKU
JATUH,

BUKAN KARENA APA
TAPI KARENA SEPI TERDALAM,

BUKAN KARENA
DINGINYA JUGA YANG MENAJAUH.

TAK TERBIASA KAN BEGINI

MERATAP TANGIS
DALAM SEPI

PENUH DENGAN ASAP

YANG BEGITU
PENGAP.....

TERUS TERUSIK

KAU TELAH HILANG

BEGITU JELAS
MELAYANG

DARASEPASANG TAPI
SAYANG

INI
PERMAINANWAYANG

DI MAINKAN
GONJANG-GANJING

DALAM DUNIA YANG
BESING

JATUH BERDIRI
JATUH TERBAYANG

LARI DALAM TERANG

TAPI MATI
DALAMPERMAINAN PERANG

DISINI KU
TITIPKANSEBUAH SALAM

MATI TANPA
DAYA,HIDUP KAU BERFOYA

TAUKAH DUNIA
PANGGUNG SANDIWARA,

API,AIR SELALU
SAMA TANPA SAMA,

BEGITULAH
KEHIDUPAN TANPA RENCANA

''VIP''

Ini dirimu

Dan dia diriku

Kau mengejur lelah

Menjeriy lemah

Terteguk asa
kemenagan

Senyum berharga

Tanpa ada yang
tau

Sampai hilang
hembusannya

Mencekik perih

Tertatih

Tertancap keras

Sampai kulit terkelupas.

Juang kah kalian

JUANG KAH KALIAN?

Apa yang kalian
rasa,

Jika bukan
bahagia semata,

Dan apa yang kalian
kenang,

Jika bukan
lipatan uang

Lihat tangan keras dulu
terpupus,

Hati yang tulus

Penuh tetesan air mata

Yang mencipta bahagia

Sampai sekarang ,

Dan mereka
tersenyum terang,

Tapi kalian tanpa
harga,

Yang membuat
dunia jatuh tersiksanya.

Kita bersedih

Begitu ada menyayat
lelah

MY FIRST MY FRIEND

Sebuah hidup yang
panjang,

Tanpa permulaan
tanpa usai

Walau perjalanan
tanpa terang

Hidup bukanlah
penyesalan jua

Jika tiga insan telah
bergenggaman

Tiada hati tuk berpisah

Tapi pedas hati yang
tertelan

Ada dalam jalannya tiap arah

Tapi apakah daya

Jika tanpa senada
hati

Begitu
bergejolakkah hati kita

Dalam kenyataan
yang ada ini

Begitu mungkin kan kalian ungkapkan

Ungkapkanlah

Aku akn merantai hati
kehidupan

Dan kan bersemayam tanpa lelah

IBU DAN PUSAKAKU

Senyum bahagiaku

Hatimu dalam pelindungku

Karena jiwamu hidupku

Dan keruh matmu, matiku

Jangan karenaku

Kasihmu yang
menyapa

Kau hati mutiara

Sampaikan salamku
padanya

Wahai malam yang
menyapa

Dengan belaiannya

Melantunkan melodi
suaraku

Nyanyian dalam doa
untukmu

Sampai gelap akan
tersapu

Dan terang tak kan usai

Sampai dunia memasang
senyummu

JUAL DAYA SEKARANG

Kala itu

Aku bersamamu

Dan sekarang aku

Menjunjungmu

Tapi dunia membawa

Bagaikan surga

Tapi hilanglah senja

Karena kalian juga

Tau akan
kenangan

Tapi hanya bahagia kalian rasakan

Dan bukan perjuangan

Yang harus kan
kalian lakukan

D U M E

Dunia merintih

Menyapa membasuh suka

Merasuki menusuk sukma

Bila jiwa penuh dosa

Latar
langit hati menangis

Baying
rintih resah nyata

Mimpir
tidur sampai terjaga

Diri
hilang terhanyut asa

Nyata dunia menyambut keras

Kini ada dalam hidup kita

Menebar ego menjadi dera

Selalu ada bagai lara

Aku
merasakan hitam, begitu juga kau

Membawa
sedikit kedua mata

Puisi arifian dan fera

---------- Forwarded message ----------
From: lintas senja <selamatmembaca@gmail.com>
Date: Sat, 22 Aug 2009 04:13:11 +0700
Subject: Puisi arifian dan fera
To: tonisastra@gmail.com
Cc: tonisaptasaputra@gmail.com

ANDAIKAN

Kawan
Andaikan gelora sukmaku dapat menjerit
Tentu akan kau dengar jerit kesakitan ku
Andaikan suara jiwaku mampu kau dengar
Keluh dan rintihnya akan mampu merobek perasaan mu
Dan teriak nya akan mampu memecahkan gendang telinga mu
Telinga mereka
Telinga manusia-manusia di seluruh persada

Kawan . . .
Andaikan tubuhku dapat meronta
Maka akan mampu membelah bumi menjadi dua
Dan andaikan bebatuan dan tanah sekitarku mampu berbicara
Mereka tentu akan ikut menggemakan suaranya
Menuntut ke adilan pada manusia
Yang telah di landa resesi kemanusia an

. . . . .By .Arifian hardi


"SEPOTONG DOA DARI SUDUT KAMAR"

Aku bersimpuh menatap gelap tengah malam ini
Komat kamit bibir ku capai membisik kan sepotong doa
Firman firman Mu sungguh bermakna
Ketika hari ini bersungkur
Engkau Tuhan ku
Illahi angta
Aku bersandar
Betapa jasad ini adalah bangkai
Yang selalu berharap ridho
Dan petunjuk mu
Di sini,di sudut kamar
Hijab mu menutup akbar
Jauh tersembunyi tak mampu ku gambar
Semakin terasa,betapa hadirku
Hanya setetes embun di tengah samudra
Tuhan . . .
Taburlah kodrat Irodat Mu
Di bumi rata yang penuh fatwa fatwa
Bukan bumi yang murni memujamu

Andai malam ini
Engkau hadirkan hidayah
Nur kifayah
Dan nur inayah Mu
Di tengah sunyi ini
Aku mohon lindungi kami
Dari azab dan murkamu

Puisi Wahyu joko samudro

---------- Forwarded message ----------
From: lintas senja <selamatmembaca@gmail.com>
Date: Sat, 22 Aug 2009 03:47:05 +0700
Subject: Puisi joko
To: tonisastra@gmail.com
Cc: tonisaptasaputra@gmail.com

TEMPAT TERBAIK

Langit mendung
Petir di ufuk barat dan timur
Ku tempuh jalan tak ber ujung
Langkah ku ku percepat
Hingga mulai tak terhitung
Tuk cari tempat berlindung

Semakin berlari
Semakin terasa luka hati
Deras hujan gerimis
Tak sederas aku menangis

Ku temukan tempat
Tempat berlindung dari gerimis
Tempat ku untuk menangis

Sebuah gubuk kecil
Dengan satu obor kecil
Menerangi aku yang terkucil
Menghangatkan aku yang menggigil

Di situ tempat ku
Di situ ku mau
Ku coba basuh luka ku

Itulah tempat terbaik ku
Tuk melupakan mu . . .

Puisi Toni saputra

"Tragedi Tirta wangi"


Dalam sederet mimpi
Meretak kan tulang-tulang

Laju kereta menyeret ku
Menyusuri jalanan berbatu
Jalanan penuh liku

Tertatih ku dalam langkah
Kelu . . . .
Hingga menggeleng,ku tiada daya

Separo musim ku tanpa mentari
Ku terbuai sunyi

Dalam lelap . . .
Ku tatap pasak-pasak langit
Merayapi dinding kehidupan

Ku telusuri tapak-tapak mimpi
Dan,ku bersandar di ujung Tragedi

Tirta wangi . . .
Menyisakan sebait luka
Merantai . . .,rusuk waktu ku yang patah

Tirta wangi . . .
Kembalikan pagi ku
Meski dengan sejuta mimpi yang terkebiri
Atas kenangan yang tersangkar di kesunyian
Pudar . . .Tergilas mataremaja

Tirta wangi . . .
Masih ku ingat harum mu
Kala ku kecup lekuk nadi mu
Yang ku titi . . .Tiap batas waktu

Tirta wangi . . .
Malam ku pudar di telan sunyimu

Tirta wangi . . .
Bulan telah berpamitan
Namun kenangan mu abadi
Tersangkar dalam tetes-tetes kasih

Tirta wangi . . .
Embun rindu ku tak mampu melukis senyum indahmu,panoramamu . . .
Yang tertelan lorong waktu

Tirta wangi . . .
Ku ingin kembali mengukir sepoi sejuk di kakimu
Menggapai mentari,mewujudkan mimpi.
Menghapus . . .sisa-sisa Tragedi.

Tirta wangi . . .
Kenangan mu abadi,bersama sebait lagu bisu
Mengubur tiap tetes mimpi,atas asa yang tersisa.

Tirta wangi . . .
Tak mampu lagi ku kais makna,untuk mengeja fatwa di balik derita.
Sebagai tiara,medali tiap tetes siksa yang tersisa
Dari . . . Tragedi Tirta wangi.


"Misteri Tirta wangi"

Tirta wangi . . .
Dimana engkau kini?
Kemana engkau pergi?
Kemana hendak ku cari?

Tirta wangi . . .
Tempat terindah aku menanti

Tirta wangi . . .
Kau simpan selaksa makna
Meski sehasta pun kau tak pernah peduli

Tirta wangi . . .
Ku harap engkau kembali
Tuk katakan tentang keindahan.
Keindahan Tirta wangi,yang tak pernah aku mengerti

Tirta wangi . . .
Kian ku kejar . . .kian kau berlari
Kian ku cari . . .Kian kau sembunyi
Kian ku tanya . . .Kian ku tak mengerti
Misteri dibalik senyum mu.
Filosofi . . .Keindahan mu

Tirta wangi . . .
Walau kau tak ku dapati
Meski kau tak ku miliki.
Namun ku berharap . . .
Senyum mu kan kembali
Mengukir garis-garis mimpi
Menyinari hati ku
Memberi warna hidup ku
Temani hari indahku
Sampai ku di peluk bumi . . .
Tirta wangi kembali.


"OH PERIH"

Pucuk bambu bergesek
Memangil . . .
Menyayat . . .Pilu.
Selaksa ragu dampingi kelana
Semu . . .
Dan semua maya
Semaya setetes senyum sia . . .
Senyum dusta.

Dalam hadir yang tiada bermakna.
Harapkan oase
Namun,oase maya.
Menanti mentari dalam sunyi
Menunggu pagi dalam gulita
Memetik bintang di tengah terang
Tandus . . .
Gersang . . .
Sekering daun bambu

Dalam sedalam sayap rasa
Sekeping jiwa hampa
Tersayat pilu
Selaksa pilu serasa penuhi sudut asa

Oh tuhan . . .
Tiada hujan di lembah gersang.
Dan Ilalang itu pun kering.
Inikah coba-an
Ini kah ujian?
Kering daun bambu sekering hatiku.

Fwd: puisi galang

---------- Forwarded message ----------
From: lintas senja <selamatmembaca@gmail.com>
Date: Sat, 22 Aug 2009 03:35:00 +0700
Subject: puisi galang
To: tonisastra@gmail.com
Cc: tonisaptasaputra@gmail.com

SEBUAH SAJAK(tentang tirtosari)

Kembali terbayang kenangan lama
Bersama sungai tirtosari
Itu pun sudah lama sekali
Yang kadang masih juga terbayang

Saat mentari masih tegak berdiri
Saat tirtosari masih bening mengalir
Saat ku tatap sebuah senyum
Saat ku rasa itu senyum terindah yg pernah ku lihat

Hingga kau renggut sukmaku dari alam sadar ku
Dan memaksa untuk pergi tinggalkan jasad ku
Entah . . .
Hingga senja pun mengajak ku bermimpi

Kembali sore ini kusapa tirtosari
Dengan harapan dapat ku tahu
Seuntai nama hiasi nadi mu
Namun kurasa senja lagi marah pada ku

Sejak sore itu tak lagi bisa ku renggut senyummu
Namun aku masih disini
Masih Duduk di sini
Tirtosari (bersama berjuta kenangan)

Mungkin saja senja nanti tak lagi marah padaku
Dan aku masih mencoba
Menunggu di sini
Meski kini senyum ku sudah termiliki


. . . KU KANG . . .

Kang . . .
Mendung sore ini mulai pudar
Cadas pun mulai robek tersimbah kurun
Tapi mengapa kau masih menangis?

Kang . . .
Detik pun terus berlari
Dia pun ingin mengejar mimpi nya
Tapi mengapa kau masih tertunduk?

Kang . . .
Kau pun tahu
Doa ku tak kan hina untuk sekedar sekulah embun
Tapi mengapa kau selalu disitu?

Berlarilah kang . . .
Setidaknya untuk senyum nya
Senyum yang kurasa kekal untuk mu

Sudahlah kang . . .
Lupakan deras malam itu
Karena senyap adalah pedih mu

Dan aku yakin kang . . .
Kau mampu terbang
Melukis langit dengan pensilmu
Yang tak kan hilang hanya dengan penghapus waktu


"KILAH"

Sebilah senyum itupun menikam ku
Menikam sebuah angan ku
Bukan tentang luka
Tapi tentang luka
Bukan tentang perih tapi tentang pedih
Bukan tentang mati
Tapi tentang sepi
Bukan tentang api
Tapi tentang arti

Masih melintas pula tanya
Tentang makna
Sehasta saja

Aku ingin tau
Sehasta sata

(Kau anggap aku apa)

Minggu, 16 Agustus 2009

"SURATAN"

"SURATAN"

Kembali ku tatap bintang itu
Bintang yg bukan milik ku lagi
dan bulan ini pun bukan untuk ku
Setengah evolusi ini pun bukan punya ku

Ku benamkan muka ku dalam sepuluh jariku
Ku terhanyut dalam seribu sedu
ku tenggelam di danau pilu

Dan ku katakan lagi
Aku tak pantas jadi penulis
(seperti kata suratan mu)
Suratan yang lahirkan sedu
Sedu yang tak mampu terhapus pena waktu
Sedu yang hanya kan terhapus oleh suratan tangan mu
Penyura senyumku . . .
Lihatlah bintang itu
Semoga seribu bintang nanti
Kan dapat ku persembahkan untukmu
Untuk melukis segores senyum
Senyum di sela keriput pipinya
Senyum dari bibir mungilnya
Senyum dalam senyum terindahnya
Senyum . .Kebanggaan
Atas yg mereka banggakan

Jumat, 14 Agustus 2009

TERORISME

PENASARAN,SALUT DAN SARAN
Secara jujur mungkin kita atau kusus nya aku sendiri merasa penasaran sama teroris buronan Densus 88 yang bernama Nuurdiin m,top
yang membuat penasaran adalah kenapa namanya noordin.m.top?apa maksud nya:apa nordin memang top atau noordin mohamat topik?(kuper ya aku masak gtu aja gak tau dan bikin penasaran,amangnya apa aku ndak pernah lihat tv) mungkin bila ketemu nurdin yang pertama kali aku tanyakan itu

SALUT banget dan prlu di acungi 2 jempol bahkan kalu perlu 4 jempol tentang keahlian noordin merancanakan aksi teror dan cara dia bersembunyi sampai densus 88 kelabakan mencarinya,ibrohim pun dikira noordin.dan terutama salut ama cara nya merekrut anggota yang siap melakukuan apapun untuk keyakinan yang telah di a tanamkan bahkan sanggup rela mati termasuk menjadi pengantin boom,entah di janjikan apa munngkin sorga atu harta

SARAN buat akh Noordin dan ikhwah teroris nya ,sebaiknya keahlian itu di manfaat kan untuk kesejahteraan manusia karena kita di takdirkan untuk mmenjadi rahmat bagi alam dan dunia seisinya bukanya menghancurkan dan me nimbulkan keresahan manusia.nanti tuhan marah lo kalau ilmu yang di berikan ke kita di nsalah gunakan dan kurasa akh nurdin dan ikhwah nya juga lebih paham tentang agama
saran but aku dan kita semua seharusnya kita banyak belajar dari noordin tentang hal positif yang di milikinya bukan terorismenya lho,shg kita akan rela berkorban untuk negara tercinta dgn tanpa pamprih bukan seperti sekarang yg serba uang dan uang

Bintang harapan,mengejar mimpi,22 juli 09

BINTANG HARAPPAN


Bintang
Harapan
Aku ingin menjadi Bintang
Aku tumpuan harapan
Aku punya sejuta bintang
Aku punya selaksa Harapan
Aku bintang yang di harapkan
Di harapkan menjadi bintang
Bintang Harapan
Harapan Bintang bintang
Bukan sembarang bintang
Bintang
biintang
BINTANG HARAPAN

"MENGEJAR MIMPI"

Merem
Melek
Merem lagi
Bantal dibalik
Mau tidur lagi
Padahal matahari sudah tinggi
Kasihan..!
Mimpi terus di buru
Yang penting dapat angka jitu
Tak perduli belum solat subuh
Walau dhuha terus memanggil
Mau tidur lagi
Menyambung cerita yg belum usai
Mengejar mimpi
Jadi nyata di alam fana


"22 juli 09"

Mili demi mili air mata mengalir
Seiring mili demi mili darah mengalir
Dia merintih tak kuasa menahan sakitnya
Dia meronta tak sanggub mempertahankan nyawanya
Tetes demi tetes air hujan basahi bumi
Seiring tetes demi tetes air mata basahi pipi
Mengiring keranda yg membawanya pergi
Semua di tanggal
Semua di tinggalkan
Tinggallah sajak ini mengenangnya